Gue bukan orang yang maniak dengan tontonan di TV, tapi
percayalah, gue setia bila saatnya timnas bermain. Gue adalah salah satu dari
sekian juta mata yang turut menunggu aksi sang Garuda menerobos lalu mencetak
gol ke gawang lawan. Percayalah, gue termasuk salah satu dari sekian banyak
anak yang berebut Rembote TV saat emak-emak menguasai TV. Dan berteriak
kegirangan sampai-sampai di kira sudah gila.
Hari ini, kita lagi merasakan perasaan yang sama, perasaan
kecewa serta pupusnya sebuah Harapan.
Harapan yang sedang tumbuh sekali lagi
harus layu sebelum mekar. Tapi gue
sekarang ngerti ngapa ada istilah “Gila Bola”, karena bagi mereka yang
mencintai Sepakbola, gak ada yang namanya Logika. Mereka menggilai sepakbola
berpuluh-puluh kali hingga ratusan kali Selalu
menyimpan harapan pada tim kebanggaan. Setiap tahun berharap juara, namun
harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Secara Logika, tidak ada satu orangpun yang akan mendukung
sebuah tim yang hampir selalu mengecewakan. Namun, Logika
Sepakbola sangatlah berbeda. Setiap musim yang baru, selalu muncul harapan
baru. Maka, berbondong-bondonglah mereka memenuhi stadion, bersesak-sesak di
depan layar, demi memberikan dukungannya.
Ketika harapan dilambungkan, lalu jatuh dan pecah, maka kritik
akan berlalu lalang. Tapi lihatlah, ketika musim berganti, harapan pun itu
datang lagi, walaupun kemudian mungkin akan
mengecewakan lagi. Berharap-kecewa-berharap-kecewa lagi. Tapi, Mencintai
Sepakbola seperti Roman picisan yang cengeng dan penuh air mata. Berkali-kali
kecewa, esok lusa mereka akan datang lagi dan ber-harap lagi.
-Kalah aja kami siap, apalagi menang?!?! SIAPA
KITAAAAAA?????!!!!! INDONESIA!!-

Comments
Post a Comment