Skip to main content

Berharap, lalu Kecewa.


Gue bukan orang yang maniak dengan tontonan di TV, tapi percayalah, gue setia bila saatnya timnas bermain. Gue adalah salah satu dari sekian juta mata yang turut menunggu aksi sang Garuda menerobos lalu mencetak gol ke gawang lawan. Percayalah, gue termasuk salah satu dari sekian banyak anak yang berebut Rembote TV saat emak-emak menguasai TV. Dan berteriak kegirangan sampai-sampai di kira sudah gila.

Hari ini, kita lagi merasakan perasaan yang sama, perasaan kecewa serta pupusnya sebuah Harapan. Harapan yang sedang tumbuh sekali lagi harus layu sebelum mekar. Tapi gue sekarang ngerti ngapa ada istilah “Gila Bola”, karena bagi mereka yang mencintai Sepakbola, gak ada yang namanya Logika. Mereka menggilai sepakbola berpuluh-puluh kali hingga ratusan kali Selalu menyimpan harapan pada tim kebanggaan. Setiap tahun berharap juara, namun harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.

Secara Logika, tidak ada satu orangpun yang akan mendukung sebuah tim yang hampir selalu mengecewakan. Namun, Logika Sepakbola sangatlah berbeda. Setiap musim yang baru, selalu muncul harapan baru. Maka, berbondong-bondonglah mereka memenuhi stadion, bersesak-sesak di depan layar, demi memberikan dukungannya.

Ketika harapan dilambungkan, lalu jatuh dan pecah, maka kritik akan berlalu lalang. Tapi lihatlah, ketika musim berganti, harapan pun itu datang lagi, walaupun kemudian mungkin akan mengecewakan lagi. Berharap-kecewa-berharap-kecewa lagi. Tapi, Mencintai Sepakbola seperti Roman picisan yang cengeng dan penuh air mata. Berkali-kali kecewa, esok lusa mereka akan datang lagi dan ber-harap lagi.

-Kalah aja kami siap, apalagi menang?!?! SIAPA KITAAAAAA?????!!!!! INDONESIA!!-

Comments

Popular posts from this blog

Membiasakan Diri Dengan Kata: Tolong, Maaf dan Terima Kasih.

S eiring berjalannya waktu ada banyak hal yang telah berubah. Ada yang timbul dan ada yang tenggelam. Banyak sesuatu yang tidak kita mengerti termasuk kosa kata baru yang hadir dengan sendirinya yang kadang kita tidak tahu artinya dan malah terlalu sering kita pakai dalam kehidupan sehari-hari dan justru kosa kata lama yang seharusnya selalu kita pakai, malah kita lupakan. Padahal kalau saja kita sadar arti dan pengaruhnya, banyak kosa kata yang lebih baik untuk selalu kita ucapkan dibanding "Ah baper lo!" yah sebagai contohnya kosa kata Tolong, Maaf dan Terima Kasih. 1. 'Terima Kasih' itu lebih mahal dari uang. Uang memang bukan segalanya walaupun segalanya harus dibeli pakai uang. Diluar sana banyak orang yang beranggapan bahwa ketika kita sudah menyerahkan uang, semuanya akan selesai begitu saja. Padahal kan tidak. Contohnya waktu kita belanja, belanja dari barang yang paling murah sampai yang paling mahal, setelah barang diberikan ke kita dan kita memb...

Tawa "Malaikat" di Masjid

P engusiran dan penghardikan Anak - Anak di Masjid menjadi pemandangan biasa di Indonesia. Mata - Mata Tajam dan kata - kata Kasar keluar dari BKM (Badan Kemakmuran Masjid) "Jahiliyah". Kecamuk antara wajah sangar Orang tua di rumah yang menghalaunya ke Masjid dan wajah seram BKM "Jahiliyah" yang mengusirnya, seolah merengut kebahagiaan di masa kecilnya. Jika Anak - Anak muslim Berlari, Riang, Tawa di Masjid itu adalah Ciri Khas Anak - Anak. Akan tetapi jika yang Berlari dan Tertawa itu ialah Orang tua maka mereka layak di usir. Mereka sebenarnya "Malaikat" Allah yang sedang bergembira di rumah Robb-Nya. Bahkan Hasan dan Husein pernah menaiki tubuh Rasulullah saat mengimami Sholat para Sahabat, Rasulullah Sujud begitu lama, Hingga ada sahabat yang bertanya "Ya Rasulullah, mengapa lama sekali sujudmu" Rasul menjawab "Tadi Hasan dan Husein naik di tubuhku, aku khawatir kalau aku bangkit mereka terjatuh, ku biarkan mereka puas bermain...

Apakah Pembuat (Indomie) Goreng Masuk Surga?

S eusai menjalankan Sholat Tahajud, seorang kiai mendadak ingin keluar dari langgar, mencari udara Segar. Di depan langgar, dia melihat salah satu santrinya sedang merokok dengan muka yang tampak serius memikirkan sesuatu.  “Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?” Si Santri njenggirat kaget hingga rokoknya terjatuh. “Nggak, Pak kiai… Hanya memikirkan hal yang tidak terlalu penting.” ujarnya sambil mengambil rokoknya dari tanah.  “Kalau aku boleh tahu, hal apakah itu?”  Si Santri diam sejenak, lalu membuka suara. “Anu, Pak Kiai… Apakah kira-kira orang yang membuat Indomie goreng itu masuk surga atau tidak ya?”  “Lha memang kenapa?”  “Bayangkan, Pak kiai… Dengan harga yang cukup murah, Indomie goreng memberi kenikmatan luar biasa. Santri - Santri yang habis mengaji, bisa mengisi perut mereka, menikmati lezatnya Indomie Goreng. Mahasiswa-mahasiswa yang duitnya menipis, seusai mengerjakan tugas, bisa bergembira dengan cara yang sederhana: makan Indomie goreng. ...