Skip to main content

Apakah Pembuat (Indomie) Goreng Masuk Surga?


Seusai menjalankan Sholat Tahajud, seorang kiai mendadak ingin keluar dari langgar, mencari udara Segar. Di depan langgar, dia melihat salah satu santrinya sedang merokok dengan muka yang tampak serius memikirkan sesuatu. “Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?”

Si Santri njenggirat kaget hingga rokoknya terjatuh. “Nggak, Pak kiai… Hanya memikirkan hal yang tidak terlalu penting.” ujarnya sambil mengambil rokoknya dari tanah. “Kalau aku boleh tahu, hal apakah itu?” Si Santri diam sejenak, lalu membuka suara. “Anu, Pak Kiai… Apakah kira-kira orang yang membuat Indomie goreng itu masuk surga atau tidak ya?” “Lha memang kenapa?” “Bayangkan, Pak kiai… Dengan harga yang cukup murah, Indomie goreng memberi kenikmatan luar biasa. Santri - Santri yang habis mengaji, bisa mengisi perut mereka, menikmati lezatnya Indomie Goreng. Mahasiswa-mahasiswa yang duitnya menipis, seusai mengerjakan tugas, bisa bergembira dengan cara yang sederhana: makan Indomie goreng.

Orang-orang yang usai bermunajat dan berzikir di tengah malam, bisa makin menikmati karunia Allah dengan cara yang tak rumit: cukup pergi ke dapur, 10 menit kemudian sudah bisa menghadap seporsi Indomie goreng. Banyak orang yang sedih menjadi gembira dengan tidak mengeluarkan banyak biaya. Indomie goreng dinikmati oleh semua kalangan, baik para orang kaya sampai orang tak berpunya, dari para pejabat sampai rakyat jelata. Perut mereka kenyang, hati pun gembira. Bukankah itu mulia, Pak kiai?” Sang Kiai diam. Dia lalu duduk di samping santri kinasihnya itu. “Apakah para pencipta kegembiraan-kegembiraan kecil semacam itu, bisa masuk surga, Pak Kiai?” “Pertanyaanmu terlalu berat, Nak. Surga itu hak Tuhan. Jangan turut campur soal itu…” jawab Sang Kiai sambil menghirup nafas panjang. 

Wajahnya memandang langit yang agak mendung. Udara malam menjelang pagi kali ini begitu segar dengan angin yang sembribit. Suasana tintrim. “Mohon maaf, Pak Kiai. Seperti yang sejak awal saya matur, saya hanya sedang memikirkan hal yang tidak penting. Hanya pikiran melantur…” “Tidak baik punya pikiran melantur. Pikiran yang terlalu banyak melantur itu menyiakan dua karunia Gusti Allah yang sangat penting: pikiran itu sendiri dan waktu.” “Inggih, Pak Kiai. Mohon maaf…” “Jangan meminta maaf kepadaku…” “Inggih, Pak Kiai…” “Gunakanlah waktumu untuk beraktivitas yang nyata…” “Baik, Pak Kiai…” Si Santri itu lalu bangkit, menyalami kiainya. Tapi Sang Kiai segera bertanya, “Lho, kamu mau ke mana?” “Menggunakan waktu sebaik mungkin, Pak Kiai.”

“Mau melakukan apa?” “Melakukan hal nyata, Pak Kiai. Mungkin membaca kitab. Atau mungkin berzikir…” “Itu nanti saja sehabis Sholat Subuh…” Si Santri kikuk. Agak bingung. Kepalanya menunduk. Sepasang tangannya berusaha membetulkan sarungnya agar tidak melotrok. “Kamu masih punya stok Indomie goreng?” Ditanya seperti itu, Si Santri agak grogi. “Mmm… masih, Pak Kiai. Masih banyak. Ukuran biasa ada. Ukuran jumbo juga ada.” “Kalau kamu berkenan, bolehlah kamu bikinkan aku Indomie goreng.” Wajah Si Santri tampak terkejut tapi sekaligus sumringah. 

“Tentu saja akan saya buatkan, Pak Kiai!” Lalu Santri itu menyat hendak pergi bergegas. “Eh, tunggu dulu…” “Ya, Pak Kiai…” “Punya telor?” “Punya, Pak Kiai! Masih ada kalau cuma 5 butir.” “Jangan banyak-banyak, dua butir saja. Satu diceplok, satu lagi didadar.” “Baik, Pak Kiai!” “O ya, kasih irisan cabe ya…” “Sendika dhawuh, Pak Kiai. Pedas, Pak Kiai?” Sang Kiai menganggukkan kepala, lalu dia berkata, “O ya, jangan lupa Indomie gorengnya dobel ya…” “Indomie jumbo double, Pak Kiai?” “Tidak usah. Terlalu kenyang dan berlebihan itu tidak baik. Cukup yang ukuran biasa saja tapi dobel.”

“Siap, Pak Kiai!” “Dan jangan lupa, minta Udud-mu satu. Untuk kuisap nanti sehabis makan Indomie. Kebetulan udud-ku habis.” “Pasti, Pak Kiai.” Segera Santri itu berkelebat pergi ke dapur pesantren dengan hati yang gembira sekaligus berpikir keras. Sudah hampir 5 tahun dia nyantri di pesantren kecil ini, belum pernah sekali pun dia mendapatkan kehormatan membuatkan kopi kiainya yang begitu disegani banyak orang dan para santri karena kebijaksanaan dan gaya hidupnya yang sederhana itu.

Tapi menjelang Subuh ini, dia diminta membuatkan Indomie. Dobel lagi. Memakai dua telor lagi. Mulut dan hatinya tak berhenti mengucapkan syukur ke Gusti Allah, diberi kesempatan untuk berbakti.

Credit : Puthut EA

Comments

Popular posts from this blog

Membiasakan Diri Dengan Kata: Tolong, Maaf dan Terima Kasih.

S eiring berjalannya waktu ada banyak hal yang telah berubah. Ada yang timbul dan ada yang tenggelam. Banyak sesuatu yang tidak kita mengerti termasuk kosa kata baru yang hadir dengan sendirinya yang kadang kita tidak tahu artinya dan malah terlalu sering kita pakai dalam kehidupan sehari-hari dan justru kosa kata lama yang seharusnya selalu kita pakai, malah kita lupakan. Padahal kalau saja kita sadar arti dan pengaruhnya, banyak kosa kata yang lebih baik untuk selalu kita ucapkan dibanding "Ah baper lo!" yah sebagai contohnya kosa kata Tolong, Maaf dan Terima Kasih. 1. 'Terima Kasih' itu lebih mahal dari uang. Uang memang bukan segalanya walaupun segalanya harus dibeli pakai uang. Diluar sana banyak orang yang beranggapan bahwa ketika kita sudah menyerahkan uang, semuanya akan selesai begitu saja. Padahal kan tidak. Contohnya waktu kita belanja, belanja dari barang yang paling murah sampai yang paling mahal, setelah barang diberikan ke kita dan kita memb...

Tawa "Malaikat" di Masjid

P engusiran dan penghardikan Anak - Anak di Masjid menjadi pemandangan biasa di Indonesia. Mata - Mata Tajam dan kata - kata Kasar keluar dari BKM (Badan Kemakmuran Masjid) "Jahiliyah". Kecamuk antara wajah sangar Orang tua di rumah yang menghalaunya ke Masjid dan wajah seram BKM "Jahiliyah" yang mengusirnya, seolah merengut kebahagiaan di masa kecilnya. Jika Anak - Anak muslim Berlari, Riang, Tawa di Masjid itu adalah Ciri Khas Anak - Anak. Akan tetapi jika yang Berlari dan Tertawa itu ialah Orang tua maka mereka layak di usir. Mereka sebenarnya "Malaikat" Allah yang sedang bergembira di rumah Robb-Nya. Bahkan Hasan dan Husein pernah menaiki tubuh Rasulullah saat mengimami Sholat para Sahabat, Rasulullah Sujud begitu lama, Hingga ada sahabat yang bertanya "Ya Rasulullah, mengapa lama sekali sujudmu" Rasul menjawab "Tadi Hasan dan Husein naik di tubuhku, aku khawatir kalau aku bangkit mereka terjatuh, ku biarkan mereka puas bermain...