G ue bukan orang yang maniak dengan tontonan di TV, tapi percayalah, gue setia bila saatnya timnas bermain. Gue adalah salah satu dari sekian juta mata yang turut menunggu aksi sang Garuda menerobos lalu mencetak gol ke gawang lawan. Percayalah, gue termasuk salah satu dari sekian banyak anak yang berebut Rembote TV saat emak-emak menguasai TV. Dan berteriak kegirangan sampai-sampai di kira sudah gila. Hari ini, kita lagi merasakan perasaan yang sama, perasaan kecewa serta pupusnya sebuah Harapan . Harapan yang sedang tumbuh sekali lagi harus layu sebelum mekar. Tapi gue sekarang ngerti ngapa ada istilah “Gila Bola”, karena bagi mereka yang mencintai Sepakbola, gak ada yang namanya Logika. Mereka menggilai sepakbola berpuluh-puluh kali hingga ratusan kali Selalu menyimpan harapan pada tim kebanggaan. Setiap tahun berharap juara, namun harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Secara Logika, tidak ada satu orangpun yang akan mendukung sebuah tim yang hampir selalu menge...
S eusai menjalankan Sholat Tahajud, seorang kiai mendadak ingin keluar dari langgar, mencari udara Segar. Di depan langgar, dia melihat salah satu santrinya sedang merokok dengan muka yang tampak serius memikirkan sesuatu. “Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?” Si Santri njenggirat kaget hingga rokoknya terjatuh. “Nggak, Pak kiai… Hanya memikirkan hal yang tidak terlalu penting.” ujarnya sambil mengambil rokoknya dari tanah. “Kalau aku boleh tahu, hal apakah itu?” Si Santri diam sejenak, lalu membuka suara. “Anu, Pak Kiai… Apakah kira-kira orang yang membuat Indomie goreng itu masuk surga atau tidak ya?” “Lha memang kenapa?” “Bayangkan, Pak kiai… Dengan harga yang cukup murah, Indomie goreng memberi kenikmatan luar biasa. Santri - Santri yang habis mengaji, bisa mengisi perut mereka, menikmati lezatnya Indomie Goreng. Mahasiswa-mahasiswa yang duitnya menipis, seusai mengerjakan tugas, bisa bergembira dengan cara yang sederhana: makan Indomie goreng. ...